Entry: Dari Maya ke Nyata Monday, January 11, 2010



 Bingung gak tau mau ngapain.Minggu malam nongkrong di kamar saja. Teman rumah belum pada pulang liburan musim dingin.Gak bisa kemana-mana karna lagi badai salju, ini juga dah bersyukur sekali bisa nyampe rumah setelah penerbangan dicancel 2 kali. Mau kerjain 2 esai yang seminggu lagi mesti disubmit tapi malasnya gak ketulungan.Mau nonton film online juga ternyata belum ada film baru yang sudah bagus kualitasnya, mau nonton ulang film lama kok bosan. Nonton serial tivi di web, susah dapat yang full.Mau nonton channel tivi Indonesia, lagi gak ada yang bagus.


Iseng-iseng buka situs pertemanan yang dulu sempat populer, Friendster (FS). Rupanya FS makin mirip layoutnya dengan Facebook, hmm jadi kangen dengan situs ini.Buka FS sendiri dan FS suami, teringat perjumpaan kami pertama kali di jaringan ini.Membaca-baca lagi pesan-pesan di inbox buat/dan dari suami yang kala itu masih berstatus teman biasa saja,


Pertemanan kami dimulai tahun 2004, ketika saya memposting sebuah artikel mengenai 'life is beautiful' yang langsung diresponnya dengan mengadd sebagai teman. Senyum-senyum sendiri mendapati cerita-cerita kami di surat elektronik itu ternyata membahas banyak hal mulai dari agama, hobi, buku, film, musik, pekerjaan, cita-cita, sampai kisah cinta masing-masing. Selama 3 tahun pertemanan kami di dunia maya tak pernah menyangka suatu saat si sahabat diskusi ini akan menjadi suami. Saat itu memang kami tak pernah mengira. Selama tahun-tahun pertemanan itu, kami hanya pernah bertemu langsung 2 kali saja.


Pertama kali bertemu beberapa bulan setelah berkawan maya itu. Waktu itu saya masih bekerja sebagai sekertaris di salah satu rumah sakit di kota kelahiran. Saya mengajaknya berkunjung ke cafe baca kawan-kawan, mengingat dia suka membaca juga. Pertemuan yang biasa saja dan tak membawa kesan berarti, lagipula hanya setengah jam kalau tak salah. Rupanya kami memang lebih seru berbincang dan berdiskusi di dunia maya lewat FS, blog dan email. Saya suka tulisan-tulisan di blognya dan pemikiran-pemikirannya yang liar. Saya juga mengagumi percaya dirinya yang besar dan mimpi-mimpinya yang kurang lebih sama dengan saya. Tapi, yang membuat saya paling betah berbagi kisah dengannya karena pengetahuannya yang luas tentang agama-agama dan pandangannya mengenai kebebasan hidup terutama menyikapi cara yang 'berbeda' dalam memuja-Nya.


Pertemuan kedua terjadi saat saya terkena cacar air sepulang dari Jogja, sebulan sebelum ibunda tercinta berpulang. Saya meminta tolong untuk membukakan email dari seorang dosen di Jepang yang akan meneliti bersama saya. Kebetulan dia waktu itu bekerja disalah satu perusahaan dekat rumah saya yang punya fasilitas internet. Dengan muka penuh totol-totol cacar, saya menemuinya yang datang dengan selembar kertas print out email tersebut. Membaca sekilas isi email kemudian saya menulis di kertas tadi isi jawaban dari saya untuk dibalas. Tak lebih dari 15 menit saja sebab dia pun harus kembali ke kantor dan tentu saja mengetik email balasan saya itu. Sudah lama saya memang mempercayakan dia untuk memegang password email dan blog. Tak jarang saya memintanya untuk membukakan email atau sekedar mengecekkan blog saat saya tak mendapat jaringan internet selama perjalanan-perjalanan saya ke desa-desa saat itu. Hubungan kami sangat baik meskipun hanya dua kali itu bertemu langsung. Selain itu kami juga sibuk dengan urusan dan kehidupan pribadi masing-masing di dunia nyata.


Di pertemuan ketiga lah di tahun 2007 yang membuat status persahabatan kami berubah. Ketika itu saya sedang jenuh dengan rutinitas pekerjaan dan mood hati yang tak karuan. Terpikir untuk mencari suasana baru yang seminim mungkin orang-orangnya saya kenali. Ada dua pilihan saat itu, ke desa kecil di kaki gunung di Malang atau ke Kajang, sebuah kampung terpencil yang terkenal dengan keunikan budayanya. Sembari mencari pengalaman, juga ingin menuliskannya untuk sebuah situs jurnalisme orang biasa. Saya putuskan untuk ke Kajang karena selain saya belum pernah ke sana, juga ada dia yang bekerja sebagai guru baca tulis untuk anak-anak dusun, jadi ada akses untuk masuk ke suku ini. Ini juga tak sengaja saya ketahui ketika kami saling bertukar kabar lewat sms. Rupanya dia sudah berpindah kerja beberapa kali dan karena lebih tertarik untuk kerja di lapangan makanya dia lalu bergabung dengan salah satu LSM lokal dan bekerja di Kajang. Kali itulah saya benar-benar bisa bertemu dengan dia lebih lama dan mengenalnya lebih nyata. Dari semestinya 3 hari saya tinggal di dusun itu, akhirnya saya perpanjang hingga 5 hari. Melihatnya mengajar anak-anak membaca dan berhitung dengan penuh kesabaran membuat saya jadi makin kagum dengan pribadinya. Saya sendiri mencoba mengajari anak-anak tersebut berhitung dan sepertinya saya tidak cukup sabar dengan mereka. Suara saya naik 2 oktaf ketika mereka masih saja salah menghitung hasil pengurangan yang saya berikan. Jadi malu sendiri melihat dia dengan telaten dan tekun mengajari anak-anak tersebut. Dalam wawancara dengannya, saya banyak belajar hal-hal baru yang belum kami perbincangkan sebelumnya. Tapi masih tak terpikir untuk jatuh suka saat itu. Saya masih menganggapnya sebagai teman perjalanan saja. Sepulang dari sanalah semuanya baru dimulai. Saya pulang lebih dahulu dari dia. Tak biasanya, saya ingin terus berada di sana, terkesan. Padahal, diperjalanan-perjalanan sebelumnya saya tak sebegitu antusiasnya.


Dan begitulah akhirnya.

Ditahun akhir 2007, kami memutuskan untuk menaikkan level persahabatan maya ini ke sebuah persahabatan yang nyata sebagai pasangan kekasih. Tak banyak yang berubah dari kami dengan status baru ini karena kami pun tak ingin saling mengubah. Meskipun penyesuaian tetap ada, tapi karena kami sudah saling mengenal pribadi masing-masing sebelumnya maka tak cukup setahun kami lalu menikah. Dan surat-suratan kami tak lalu berhenti begitu saja, kami masih saling mengirim surat cinta lewat pos saat berjauhan. Saya percaya dengan sebuah kalimat yang mengatakan 'dengan berkirim surat, engkau memberikan hatimu tanpa perlu berpindah tempat'.


Hmm..sudah pukul 12 malam.

Salju sudah mulai berhenti. Air teh masih tersisa setengah gelas. Buku-buku bahan esai berserakan di atas meja belum tersentuh. Suara jarum detik jam di dinding mengingatkan untuk beristirahat. Semoga besok sudah ada semangat untuk mengerjakan tugas kuliah. Semoga.

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments